Tulisan ini merupakan refleksi diri saya. Saya percaya sepenuhnya bahwa alam semesta ini ada karena penciptaan oleh sang Pencipta, bukan muncul spontan tanpa sebab. Saya yakin sepenuhnya bahwa matahari bulan dan planet berputar dalam keteraturan presisi tinggi karena ada dzat yang senantiasa mengaturnya. Saya percaya bahwa makhluk tercipta karena diciptakan bukan karena ketidak sengajaan. Saya yakin 100% elektron berputar mengelilingi Inti atom karena Allah menghendakinya. Saya percaya semuanya adalah atas kekuasaan Allah.

Tapi saya tidak tahu dengan diri saya, hati yang gelisah, hati yang terlalu gelisah mencintai dunia: mencintai anak, mencintai istri, mencintai orang tua, mencintai saudara. Hati yang gelisah saat saudara belum berhasil, gelisah saat belum bisa bahagiakan orang tua, belum bisa menjadi yang terbaik bagi istri, merasa belum bisa berikan yang terbaik untuk anak, sedih belum bisa bermanfaat bagi tetangga/lingkungan. Seharusnya saya tidak boleh gelisah karena itu semua, harusnya gelisah itu saat jauh dari sang pencipta saja.

Saat adzan berkumandang berat badan untuk bangkit melangkah ke masjid. Saat sholat terbayang pekerjaan. Setiap hari hanya memikirkan kesenangan sendiri. Bekerja kurang semangat (padahal kerja itu ibadah). 

Apakah saya perlu menyalahkan Syeitan yang katanya membisiki jiwa saya, menjauhkan dari kebaikan? Tapi bukankah syeitan itu memang diciptakan untuk menguji manusia, yang kata Dr Zakir Naik siapa yang mampu menghadapi ujian dengan baik akan menjadi mahluk superior di akhirat kelak. 

Ya Allah Tuhanku, Engkaulah yang membolakbalikkan hati. Doaku padamu teguhkanlah hati kami untuk selalu dekat denganMu, bijaksanakanlah hamba dalam menghadapi ujianmu (dunia) ini. Kuatkan imanku, ibadahku, kekuatan menjauhi laranganmu.

Amiin

 

Mendoh, 17 April 2017